Payakumbuh – Bangun Kota Tangguh terhadap berbagai tantangan dan ancaman, Wali Kota Zulmaeta menekankan pentingnya penguasaan manajemen risiko bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintahannya. Menurutnya, kemampuan ASN dalam mengidentifikasi, menganalisis, serta mengantisipasi risiko adalah kunci utama untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
“Sebagai pelayan publik, ASN harus memiliki kemampuan melihat potensi risiko di setiap program dan kegiatan. Dengan begitu, kita bisa meminimalisir dampak negatif dan memaksimalkan hasil untuk masyarakat,” ujar Wali Kota Zulmaeta saat membuka kegiatan Workshop Manajemen Risiko bagi ASN di Aula Kantor Wali Kota, Kamis (6/11).
Ia menjelaskan bahwa manajemen risiko bukan hanya diterapkan dalam bidang keuangan atau proyek pembangunan semata, tetapi juga dalam setiap proses pengambilan keputusan pemerintahan. Mulai dari perencanaan anggaran, penyusunan kebijakan, pelayanan publik, hingga penanganan bencana.

Baca Juga : Gerakan Pangan Murah Pemko Payakumbuh Ramai Diserbu
“Ketika kita berbicara tentang kota tangguh, artinya kita berbicara tentang kesiapan. Kesiapan terhadap bencana alam, ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, bahkan risiko sosial seperti konflik atau gangguan pelayanan. Semua itu harus diantisipasi dengan sistem manajemen risiko yang matang,” tambahnya.
Dorongan Transformasi ASN Menuju Profesional dan Adaptif
Zulmaeta menilai, perubahan zaman yang semakin cepat menuntut ASN untuk tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga berpikir strategis dan visioner. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan kapasitas ASN menjadi prioritas pemerintah kota.
Ia berharap agar setiap ASN dapat memahami prinsip-prinsip dasar manajemen risiko, termasuk bagaimana menilai tingkat ancaman, menentukan prioritas mitigasi, serta merancang langkah-langkah pencegahan yang terukur. Dengan begitu, ASN dapat mengambil keputusan berbasis data dan analisis, bukan sekadar intuisi.
“Pemerintahan modern adalah pemerintahan yang mampu mengelola risiko dengan baik. Kita tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama yang reaktif. Harus proaktif dan terukur,” tegas Zulmaeta.
Komitmen Membangun Sistem Pemerintahan yang Resilien
Selain itu, Wali Kota juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menerapkan manajemen risiko. Menurutnya, keberhasilan membangun kota tangguh tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan dunia usaha, akademisi, serta masyarakat sipil.
“Kita ingin membangun ekosistem kota yang resilien. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus berjalan seirama. Karena risiko di satu sektor bisa berdampak luas ke sektor lain,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) juga menambahkan bahwa pihaknya tengah menyusun panduan teknis manajemen risiko daerah yang akan menjadi acuan bagi seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Panduan ini akan mengatur mekanisme penilaian risiko, penyusunan rencana mitigasi, hingga sistem pelaporan dan evaluasi.
Antisipasi Risiko Bencana dan Krisis Lingkungan
Salah satu fokus utama pemerintah kota saat ini adalah menghadapi potensi bencana dan krisis lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi banjir, longsor, serta kekeringan di berbagai wilayah. Untuk itu, Pemko terus memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Risiko lingkungan adalah salah satu tantangan terbesar kota modern. Jika tidak kita kelola dengan baik, dampaknya bisa sangat besar terhadap ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan warga,” ungkap Zulmaeta.
Ia juga menginstruksikan agar setiap perangkat daerah memasukkan aspek manajemen risiko dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Dengan demikian, setiap program pembangunan akan memiliki langkah antisipasi yang jelas terhadap potensi hambatan dan ancaman.
ASN sebagai Garda Depan Ketangguhan Daerah
Zulmaeta menegaskan, ASN adalah garda terdepan dalam menjaga ketangguhan daerah. Oleh karena itu, mereka harus dibekali dengan wawasan dan keterampilan yang sesuai dengan tantangan zaman. Pemerintah daerah berencana menjadikan pelatihan manajemen risiko sebagai kegiatan rutin tahunan, agar kompetensi ASN terus meningkat seiring perkembangan situasi.
“ASN yang cerdas dalam mengelola risiko berarti ASN yang siap menghadapi perubahan. Mereka akan menjadi motor penggerak utama dalam membangun kota yang tidak hanya maju, tetapi juga tangguh dan berdaya tahan,” tutup Wali Kota.
Kegiatan pelatihan tersebut diikuti oleh ratusan ASN dari berbagai OPD. Selain materi teori, peserta juga mendapatkan simulasi praktik penilaian risiko serta studi kasus penerapan manajemen risiko dalam pelayanan publik.
Dengan langkah ini, Pemerintah Kota di bawah kepemimpinan Wali Kota Zulmaeta menunjukkan komitmennya untuk membangun birokrasi yang modern, responsif, dan berorientasi pada keberlanjutan — demi terwujudnya kota tangguh dan masyarakat yang sejahtera.






