Payakumbuh – Menhan Israel Usai Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut bahwa Gaza sedang “terbakar” usai Angkatan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan darat ke Kota Gaza.
Pengerahan pasukan darat ini dianggap eskalasi signifikan dari apa yang sebelumnya menjadi operasi udara dan pengepungan laut saja.
Internasional merespon dengan panggilan seruan agar semua pihak menghormati hukum perang dan membatasi dampak terhadap warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan..
Beberapa pejabat Israel mengatakan bahwa mereka memperkirakan pertempuran dalam kota ini akan berlangsung lama karena kepadatan penduduk dan banyaknya rute bawah tanah yang digunakan Hamas.
Pencarian bagi sandera di tengah perang ini menjadi semakin rumit karena kondisi medan, kehancuran, dan risiko terus-menerus dari serangan udara dan darat.
Upaya diplomasi internasional meningkat, dengan negara-negara serantau dan organisasi PBB menyerukan gencatan senjata atau setidaknya jeda kemanusiaan agar bantuan bisa masuk.
Israel menyangkal tuduhan melakukan kejahatan perang atau genosida, menegaskan bahwa operasi ditujukan pada target militer yang dipilih dan upaya untuk meminimalkan korban sipil.
Namun data dari pihak Palestina menunjukkan banyaknya rumah hancur, fasilitas publik rusak, dan jumlah korban sipil yang terus meningkat.
Eksodus warga Gaza berlanjut, sebagian besar bergerak ke selatan wilayah Gaza mencari perlindungan dari front pertempuran yang semakin dekat.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan angka kematian yang tinggi dalam serangan terbaru, terutama di Kota Gaza.
Dalam pandangan Israel, serangan darat dipandang sebagai langkah yang tidak bisa dihindari karena kegagalan diplomatik dan terus-menerusnya serangan roket dari Gaza ke Israel.
Menhan Katz mendesak warga Gaza agar menjauh dari kelompok Hamas dan infrastruktur mereka, menyebut bahwa Hamas menggunakan warga sipil sebagai “tameng manusia.
Kritik lain muncul karena beberapa peringatan evakuasi dianggap kurang efektif — banyak warga yang tidak punya tempat untuk mengungsi atau tidak tahu kemana harus pergi.
Sumber internasional mengatakan bahwa akses bantuan kemanusiaan mulai terganggu akibat blokade, kerusakan jalan, dan risiko keselamatan yang tinggi di daerah pertempuran






