payakumbuh – Netanyahu Geram Pada puluhan—bahkan ratusan—ribu warga Israel turun ke jalan-jalan Tel Aviv dalam sebuah protes massal, mendesak diakhirinya perang di Gaza dan pembebasan sandera.
Demonstrasi ini berlangsung di “Lapangan Sandera” (Hostages Square), tempat para pengunjuk rasa membawa foto sandera, meneriakkan yel-yel, dan memainkan genderang sebagai simbol perjuangan.
Keluarga sandera, seperti Einav Zangauker, lewat orasi tegas menuntut “kesepakatan komprehensif” yang membawa pulang anak-anak mereka, menyatakan: “Kami hanya menuntut apa yang menjadi hak kami—anak-anak kami.”

Baca Juga : Penginapan Bersejarah di Indonesia, Saksi Bisu Masa Kolonial-Kemerdekaan
Pemerintah mengatakan bahwa demo ini “memperkeras sikap Hamas” dan memperlambat negosiasi penyelamatan sandera.
Reuters melaporkan bahwa protes tersebar di seluruh negeri, dengan banyak warga membanjiri jalanan untuk menekan pemerintah Netanyahu.
Sekelompok aktivis, seperti dari “Standing Together,” memandang pemogokan sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan sandera dan menghentikan perang.
Protes massal tersebut mencerminkan frustrasi domestik yang meningkat terhadap Netanyahu, termasuk dari keluarga sandera dan mantan pejabat militer.
PBB dan kelompok internasional menyerukan penghentian operasi militer di Gaza dan mempercepat bantuan kemanusiaan, menyusul laporan kelaparan dan kehancuran infrastruktur.
Sebagian warga Palestina telah mulai meninggalkan Gaza City, khawatir dengan rencana ofensif darat Israel di tengah kondisi yang sudah kritis.
Konflik ini telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina, dan kondisi kelaparan serta kebutuhan pengungsian terus meningkat
Meski menghadapi kritik luas, Netanyahu tetap mempertahankan kebijakan militer, dengan alasan keamanan nasional dan tujuan menghancurkan Hamas.
Dia bahkan mendapat dukungan dari Donald Trump, yang menyatakan bahwa menghadapi Hamas secara militer adalah kunci untuk menyelamatkan sandera.
Namun, sejumlah pejabat militer Israel dan oposisi menyatakan bahwa Netanyahu gagal dalam penanganan sebelum perang, termasuk tidak menghentikan Hamas secara efektif.
Situasi politik internal Israel kini tampak terpolarisasi, antara dominasi kekuasaan dan kehancuran struktur demokrasi, terutama di tengah kritik luar negeri.
Protes ini juga mendapat sorotan di media-media global sebagai simbol retak legitimasi kepemimpinan Netanyahu saat perang berkepanjangan.



