Payakumbuh – Trump Ultimatum Hamas Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi pusat perhatian setelah mengeluarkan ultimatum keras kepada kelompok Hamas terkait konflik berkepanjangan di Gaza.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi dari berbagai pihak internasional, mengingat situasi di Gaza masih sangat tegang dan penuh dengan ketidakpastian.
Trump menyatakan bahwa proposal tersebut merupakan hasil dari diskusi panjang antara berbagai negara yang terlibat dalam upaya diplomatik untuk menghentikan kekerasan

Baca Juga : MBG Tingkatkan Penjualan Ayam Potong, Pedagang Berharap Dapur Tidak Langsung Beli ke PT
Sikap keras Trump ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai peran AS di bawah kepemimpinan Trump jika ia kembali menjabat sebagai presiden.
Beberapa pengamat menyebutkan bahwa Trump tengah mencoba membangun kembali citranya sebagai pemimpin global yang tegas terhadap kelompok militan.
Dalam konferensi yang sama, Trump menekankan bahwa perdamaian hanya bisa dicapai jika Hamas menghentikan serangan roket dan membebaskan seluruh sandera.
Beberapa tokoh politik AS menilai langkah Trump ini bisa menjadi bagian dari strategi kampanyenya menjelang Pilpres 2024.
Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional terus menyerukan gencatan senjata demi menyelamatkan nyawa warga sipil yang terjebak di zona perang.
Respons masyarakat internasional terhadap ultimatum Trump pun beragam, ada yang mendukung sikap tegas tersebut, namun tak sedikit pula yang mengkritiknya.
Uni Eropa, misalnya, menyatakan bahwa pendekatan militer tidak akan menyelesaikan akar masalah di Palestina.
Sebaliknya, dialog inklusif dan diplomasi dianggap sebagai jalan terbaik menuju perdamaian jangka panjang.
Negara-negara seperti Turki dan Iran mengecam keras pernyataan Trump, menyebutnya sebagai bentuk provokasi yang bisa memperpanjang konflik.
Sementara itu, Israel menyambut baik dukungan Trump dan menyatakan siap melanjutkan operasi militer jika Hamas menolak proposal tersebut.
Militer Israel mengklaim bahwa mereka hanya menargetkan infrastruktur militer Hamas, meskipun banyak laporan menyebutkan jatuhnya korban sipil.
Hamas sendiri menyatakan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan asing dan tetap menuntut diakhirinya blokade Gaza.
Mereka juga menuntut pembebasan tahanan Palestina ini






